COD; Petaka Atau Peluang?

Metode pembayaran yang dahulu umum dikalangan Kaskuser, sekarang kembali umum dikalangan online shopper Indonesia. Beberapa Facebook advertiser menilai, COD (Cash On Deliver), atau bayar ditempat, merupakan sebuah kemunduran karena dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan transaksi penjualan.

Namun, COD juga terbukti ampuh menurunkan CPR1Cost Per Result atau biaya iklan per pesanan iklan Facebook.

COD Merupakan Peluang

Siapa yang tidak mau CPR yang bisa lebih murah sampai dengan 50% dari rata-rata?

Dahulu, ketika transfer antar bank merupakan satu-satunya pilihan metode pembayaran, di salah satu toko online saya, dari 10 pengunjung website yang melakukan checkout2Mengisi form pemesanan, rata-rata 40%++ nya akan melakukan pembayaran.

Nah, semenjak ada COD, 9 dari 10 pengunjung yang melakukan checkout, melakukan pembayaran. Sehingga, bagi saya, COD adalah sebuah peluang.

Total Pesanan COD & Non COD
Total Pesanan COD & Non COD

Mengapa COD Trending

51 persen dari penduduk dewasa atau 95 juta penduduk Indonesia masih diklasifikasikan sebagai tidak memiliki rekening bank atau tidak memiliki akun lembaga jasa keuangan

Riswinandi, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank Otoritas Jasa Keuangan (sumber)

Berdasarkan pernyataan OJK di atas, bisa disimpulkan secara kasar, COD ini sebenarnya turut memfasilitasi penduduk Indonesia yang masih belum memiliki rekening bank.

Walaupun, saya juga meyakini, ada variabel lain yang menyebabkan COD cepat diterima masyarakat Indonesia, yaitu risiko penipuan toko online yang semakin rendah. Atau setidaknya, barang nya datang walau isinya bisa saja tidak sesuai dengan yang diiklankan

Jadi secara garis besar, COD ini sebenarnya sesuatu yang amat baik untuk penjual online. Metode pembayaran ini bisa meningkatkan nilai pasar retail online secara eksponensial dikarenakan pasar online shopper semakin besar.

Sekarang tinggal bagaiman penjual online dapat mengeksploitasi peluang ini dan menekan risiko-risiko yang timbul yang dapat mengurangi profitabilitas toko online.

Risiko COD #1; Arus Kas

COD memperpanjang waktu diterimanya uang kas dari konsumen karena rata-rata toko online mengandalkan kurir sebagai perantara COD.

Artinya, kurirlah yang menerima barang dari penjual, mengantarakan, menagih, dan mengirimkan uang hasil penagihannya ke rekening penjual. Beberapa kurir mengirimkan uang totalnya ke penjual, beberapa yang lain mengirimkan uang yang sudah dikurangi dengan ongkos kirim dan biaya lainnya

Sehingga, cepat atau lamanya uang masuk ke rekening penjual sangat bergantung pada performa dan kebijakan masing-masing kurir.

Bagaimana COD Meningkatkan Risiko Arus Kas Yang Macet?

Berdasarkan data toko online saya, 60% dari total penjualan merupakan transaksi COD dengan rerata waktu withdrawal3Penarikan uang COD yang berhasil tertagih adalah 12 hari dan sudah dikurangi ongkir+COD fee. Artinya, dibutuhkan 12 hari agar profit hasil penjualan COD masuk ke rekening bank

Average Collection Period Accurate Online

Pertanyaanya sekarang, jika penjual online sangat mengandalkan iklan digital, bagaimana cara ia membayar biaya iklan sehari-hari?

Untungnya, masih terdapat 40% konsumen yang membayar dengan bank transfer/E-Payment sehingga biaya iklan dapat dibayarkan. Namun, seberapa persen uang ini dapat menutupi biaya iklan sangat bergantung pada seberapa efisien si penjual beriklan. Oleh karena itu, penting untuk memiliki patokan batas atas biaya iklan per penjualan untuk menghindari arus kas yang macet karena biaya iklan terlampau tinggi dan tidak dapat ditalangi oleh penjualan transfer bank.

Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan patokan batas atas biaya iklan per penjualan jika menerima pesanan COD:

  • Meningkatkan Average Order Value (AOV) dengan cara bump offer, upselling, dan cross selling
  • Memilih platform COD dengan jangka waktu withdrawal tercepat
  • Mengajukan pembayaran tempo tanpa denda/bunga kepada pemasok
  • Menawarkan insentif diskon konversi kepada konsumen yang bersedia mengganti metode pembayaran dari COD ke bank transfer

Kalau kamu belum pernah menggunakan Facebook Ads dalam memasarkan produk kamu secara online, kamu kehilangan kesempatan besar! Pelajari sekelibat mengenai Facebook Ads untuk pemiliki brand di sini

Bagaimana arus kas dapat mengurangi profitabilitas toko online?

Bencana keuangan muncul ketika penjual tidak dapat membayar tagihan tepat waktu karena kurangnya kas toko online, padahal laporan laba rugi positif. Pada saat keadaan seperti ini, banyak penjual yang melakukan langkah taktis seperti mengajukan pinjaman modal kerja dengan bunga. Praktik ini meningkatkan biaya operasional yang sebenarnya bisa dihindar.

Risiko COD #2; Return To Sender (RTS)

Menurut saya, RTS ini risiko nya lumayan kecil, asalkan SOP4Standard Operating Procedure penjualan COD dilakukan dengan benar.

Untuk menghindari RTS yang tinggi, yang pertama kali jadi prioritas adalah pemilihan kurir yang tepat. Pastikan memilih kurir dengan tingkat coverage yang paling baik, memiliki SOP yang jelas dan tegas untuk COD, serta COD fee yang kompetitif

Yang kedua, penting sekali untuk menyaring pesanan COD yang tidak menjawab ketika dikonfirmasi serta menghindari tujuan pengiriman yang memiliki risiko RTS tinggi

Yang terakhir, pastikan agen penjualan memonitor secara harian status pengiriman pesanan COD. Banyak pesanan RTS terjadi karena adanya miskomunikasi antara kurir dan pembeli. Sehingga penting untuk admin penjualan menjembatani komunikasi antara kurir dan pembeli

Hanya dengan 3 prinsip di atas, RTS toko online saya konsisten di bawah 3%

Leave a Reply