Merintis Bisnis Online Yang Mudah & Scalable

Semangat kamu untuk merintis bisnis akhirnya menggerakan kamu juga ya sampai baca artikel ini. Saya mau memperingatkan kamu dari awal nih; Merintis bisnis online/offline tidak ada yang mudah! Kalau kamu belum mulai aja udah banyak bermimpi kaya mendadak, langsung mulai berbagai bisnis ini itu karena optimis banget jalan semua, atau membayangkan memimpin puluhan atau ratusan karyawan, yuk cuci muka dulu biar sadar 🙊

Syarat utama dan paling pertama dari seorang pebisnis itu, dia harus menjadi orang yang paling skeptis untuk segala hal.

Kita bedakan ya antara skeptis dan pesimis. Pebisnis itu secara naluriah orang yang paling optimis dibandingkan sekitarnya jadi pesimis itu gak masuk di kamus dia. Yang ada hanya pebisnis yang skeptis. Skeptis itu gak gampang percaya. Jadi Kalau pebisnis itu dapat informasi dari orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal mengenai A, B, C, sampai Z, dia gak bakal menerima itu secara mentah-mentah. Dia bakal mendengarkan dengan seksama untuk mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan, kemudian akan balik bertanya (atau mencari informasi di tempat lain) untuk klarifikasi hal-hal yang sekiranya tidak nyambung atau tidak masuk akal dengan yang diklaim. Intinya selalu bersikap hati-hati (prudent) dalam setiap menerima informasi dan melangkah.

Hanya saja, untuk bersikap skeptis itu membutuhkan latihan sehingga bisa secara alam bawah sadar menyadari hal-hal yang tidak wajar dan, yang paling penting, pintar menahan diri. Ini dilatih berdasarkan pengalaman karena untuk menyadari sesuatu yang tidak wajar, kamu harus mengenal keadaan yang wajarnya dahulu kan?

Di sini saya akan memberikan kamu gambaran sekelibat, bagaimana sih wajarnya (rata-rata) memulai bisnis online di pasar lokal? Model bisnis seperti apa sih yang mudah untuk discale dan dirintis? Di sini saya juga akan berusaha menampilkan data-data pendukung “kewajaran” yang saya temukan di internet.

Catatan: Penjabaran model bisnis di bawah khusus untuk penjualan produk online secara retail

Affiliate Marketing

Affiliate marketing adalah model bisnis online dengan konsep referral. Artinya, kamu mendapatkan komisi (persentase dari harga jual) setiap orang yang beli produk melalui link referral kamu. Status kamu di sini adalah sebagai pemasar. Game play nya berbeda-beda tergantung dari karakter produk yang dijual

Objek Jualan Affiliate Marketer Di Indonesia

Kalau di kalangan internet marketer, yang paling sering saya lihat, para affiliate marketer ini jualannya produk digital milik vendor lain yang mengandalkan FOMO (Fear Of Missing Out) dan bonus ketika berjualan. Biasanya pola nya begini:

  1. Vendor produk biasanya sudah memiliki figur dan memiliki follower (user/affiliate marketer) militan
  2. Sang figur akan makin sering tampil atau woro-woro ketika produk semakin mendekati hari launch
  3. Diikuti oleh para affiliate marketer yang mulai membangun desire audience (follower/subscriber), dengan bahasa masing-masing, di kolam masing-masing (email/telegram/FB Group)/FB personal/IG personal)
  4. Penjualan produk digital dibuka selama beberapa hari saja (FOMO) dengan deep discount (>50% biasanya) dan lifetime deal1Sekali bayar
  5. Affiliate marketer mulai menawarkan produk digital tersebut dengan link dan kode kupon diskon masing-masing
  6. Affiliate marketer juga akan menawarkan bonus-bonus fantastis untuk para user yang membeli dengan link/kode kupon mereka.

Untuk affiliate marketer yang menjual produk selain produk digital, kamu bisa lihat berbagai kemungkinannya di sini. Saya akan fokus membahas objek jualan produk digital ya karena yang paling dekat dengan saya.

Kunci Kesuksesan Affiliate Marketer

Kunci utama menjadi affiliate marketer itu adalah memiliki audience yang cukup besar untuk dijadikan bisnis. Dan untuk membangun audience militan yang percaya dengan kita itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, apapun karakter produk affiliate yang dijual. Coba hitung-hitungan saja

  • Kamu ingin mendapatkan 10 juta per bulan dari affiliate marketing
  • Kamu mendapatkan produk dengan harga jual retail 500.000 dan komisi 50% per penjualan

Berarti kamu perlu menjual 40 produk untuk mencapai target kamu. Dari sini pertanyaannya, berapa banyak orang yang perlu mengunjungi offering page kamu, kalau conversion rate offering page kamu sampai ke penjualan itu 3%? 1.300+ visitor kan? Nah, kemudian kamu perlu kembali menghitung berapa sih follower/subscriber yang kamu butuhkan untuk mendapatkan 1.300+ landing page visitor?

Kalau saya amati, pola engagement di email dan Telegram itu kurang lebih mirip. Dari total subscriber/follower kamu, rerata yang open email (atau baca channel Telegram) 10%-20% dan yang nge-klik itu paling di level 1-2%. Artinya, kamu butuh 65.000-130.000 subscriber/follower untuk mencapai target omset kamu. Kerja keras sekali ya.

sumber: Getresponse

Makanya, beberapa affiliate marketer menggunakan cara yang bisa dibilang lebih efektif dari email marketing, yaitu social media marketing yang biasanya berbentuk Facebook status/Instagram Story/Instagram Post. Hal ini sangat sejalan dengan hasil riset yang dilakukan Jakpat yang pernah saya bahas di artikel ini. Kunci dari social media marketing dengan profile pribadi adalah kamu perbanyak targeted friends2Friend request ke akun-akun yang memiliki interest-interest yang sesuai dengan target pasar produk di Facebook/Instagram account kamu kemudian menciptakan konten-konten yang engaging dengan tingkat virality yang tinggi. Kalau sudah mencapai kuota teman per akun gimana? Biasanya bikin akun pribadi lagi, batch selanjutnya.

Dipercepat saja dengan iklan?

Bisa banget, saya pernah melakukan hal ini karena rasa penasaran yang sangat hebat dan pengen banget menjajal skill Facebook ads untuk produk digital affiliate. Mungkin di lain waktu, saya akan jadikan pengalaman ini sebagai studi kasus berbentuk artikel blog. Subscribe email untuk mendapatkan notifikasi otomatis, atau follow telegram channel inoreno.

Namun, bagi kamu yang sedang mempersiapkan atau sudah ancang-ancang untuk menggunakan Facebook Ads funnel ketika berjualan produk affiliate, kamu harus hati-hati ya. Yang pertama, hindari penggunaan iFrame. Yang kedua, berdasarkan informasi yang saya terima, Facebook ads sangat ketat ketika mereview affiliate offer ads atau bisa dibilang kemungkinan untuk banned tinggi.

Produk Digital/Jasa

Beberapa contoh objek jualan produk digital/jasa yang sering saya jumpai adalah SaaS3Software As A Service (software), jasa bikin …… (freelancer (pekerja lepas)), blog/content via adsense, dan online course. Dari ke-empat tema besar tersebut, yang memiliki barrier to entry paling rendah dengan kemungkinan profitable dalam waktu yang relatif cepat adalah freelance.

Freelance Tidak Membutuhkan Modal

Hampir semua orang punya smartphone ya, setuju ya? Kalau punya smartphone, harusnya punya paket data internet kan ya. Jadi bisa dipastikan, kamu gak butuh modal untuk memasarkan jasa freelance. Namun, kalau kamu memasarkan jasa untuk desain grafis kamu harus memiliki laptop dengan spesifikasi yang mumpuni untuk design grafis. Sedangkan untuk memasarkan jasa yang kamu tawarkan, cukup gunakan marketplace seperti Freelancer, projects, fiverr, atau Sribulancer yang biasanya tidak ada biaya untuk mendaftar sebagai freelancer. Namun, di beberapa marketplace, freelancer akan dikenakan biaya fee per transaksi yang biasanya proporsional tehadap total nilai proyek.

Freelancer Bisa Menjual Berbagai Skill Yang Dimiliki

Kalau kamu memang bisa dan terbiasa berbahasa Inggris, pilihan jasa yang kamu bisa jual sangat luas! Karena kamu bermain di marketplace internasional seperti fiver. Kamu bisa cek di Fiverr berbagai kategori yang tersedia, mulai dari yang paling umum (jasa desain grafis) sampai paling mengernyitkan dahi (membaca pikiran)

Jadi, kamu perlu melihat ke dalam diri untuk mengetahui bakat apa yang sekiranya bisa kamu jual di marketplace freelancer. Pastikan juga bakat yang kamu pilih untuk ditawarkan ke klien memiliki nilai jual yang unik dan memang pasarnya big enough untuk dijadikan bisnis.

Potensi Pasar Freelance Di Indonesia

Ngomongin potensi pasar freelancer yang big enough, kamu perlu melakukan riset. Kebetulan saya menemukan dokumentasi studi yang dilakukan Sribulancer mengenai Indonesia freelancer market landscape. Studi ini menjawab:

  • 3 Pekerjaan yang paling banyak dikerjakan oleh Freelancer
    • Desain, 62.7%
    • Copywriting, 27.2%
    • Pemasaran Digital, 41.5%
  • Rerata penghasilan yang didapat per bulan oleh Freelancer
    • 61.8% freelancer mendapatkan penghasilan < Rp. 1.000.000
    • 18% freelancer mendapatkan penghasilan Rp. 1.000.000 – Rp. 3.500.000
    • 4.6% freelancer mendapatkan penghasilan > Rp. 10.000.000
  • Ada 55.000++ freelancer dan 5.400-an klien terdaftar di platform Sribulancer. Artinya, tingkat kompetisinya 1:10 jika dipukul secara rata

Berdasarkan data di atas, untuk mendapatkan penghasilan minimal Rp. 10 juta per bulan dari freelance di pasar lokal, kamu perlu menjadi top 4% freelancer di Sribulancer. Kalau kamu merupakan pemain baru dan belum memiliki kredibilitas, besar kemungkinan pendapatan bulanan kamu ada di level kurang dari 1 juta rupiah. Lebih menggiurkan jual kelas online mengenai “Bagaimana cara cari duit dengan Freelancer” kali ya?

Kesimpulannya, kalau ingin mendapatkan penghasilan per bulan minimal 10 juta per bulan, pastikan menyasar kategori desain atau pemasaran digital karena kemungkinan untuk mencapai target penghasilan kamu lebih besar

Produk Fisik

Pasar penjualan produk fisik secara online di Indonesia itu besar. Pada tahun 2018 saja, nilai penjualan online mencapai $20 Milliar dan mengalami peningkatan sebesar 20% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sumber: Datareportal

Berdasarkan data di atas, kategori travel sendiri sudah memiliki kontribusi $9.4 milliar (50%) dari total penjualan online. Besar sekali ya secara nilai penjualan! Tapi jangan lupa, kategori travel ini harga barang per unit nya tinggi seperti tiket pesawat dan hotel.

Bagaimana Trend e-Commerce di Indonesia?

Berdasarkan data dari Sirclo, salah satu platform e-Commerce enabler lokal, “Pertumbuhan industri e-commerce Indonesia didominasi oleh penjualan ritel yang terdiri dari beberapa kategori, seperti fesyen, consumer goods, maupun produk-produk kecantikan dan kesehatan”. Data ini senada dengan studi yang dilakukan oleh Hootsuite dengan We Are Social.

Urutan kategori (exc. travel, digital music, video games) berdasarkan pertumbuhan tertinggi adalah:

  1. Food & Personal Care (+30%)
  2. Toys, DIY, & Hobbies (+25%)
  3. Electronics & Physical Media (+24%)
  4. Furniture & Appliances (+23%)
  5. Fashion & Beauty (+18%)

E-Commerce Indonesia Masih Dalam Tahap Early Stage

Saya percaya, pertumbuhan penjualan retail online Indonesia itu masih dalam tahap early stage. Coba bandingkan saja persentase online retail sales dengan total retail sales di Indonesia (3.4%) dengan Amerika (16%). Bahkan di Amerika, proporsi online retail sales masih terus meningkat dengan tingkat pertumbuhan double digit (14.9%). Artinya, masih ada potensi 12% lagi yang belum di realize oleh pasar online retail sales di Indonesia.

Biasanya, keadaan pasar yang masih early stage itu bisa juga diartikan sebagai masih rendahnya tingkat kompetisi, masih tingginya profit marjin, dan masih belum adanya dominasi brand-brand di berbagai ceruk pasar potensial. Artinya, probability4Kemungkinan kamu untuk sukses merintis bisnis online lebih tinggi jika masuk ke pasar e-Commerce produk fisik.

Sumber: Youtube

Kesimpulan

Paling ideal adalah kamu harus mengetahui kekuatan (strength) kamu dimana untuk menentukan jalur mana yang kamu ambil. Memulai bisnis dengan mengandalkan kekuatan kamu akan lebih cepat berhasil dibandingkan terlalu fokus ke kesempatan (opportunity). Pebisnis itu harus lebih sering menciptakan kesempatan bukan mencari kesempatan. Lebih elegan.

Kalau ternyata kamu masih bingung atau merasa memiliki strength atau daya ungkit untuk menjadi sukses di setiap model bisnis, yang artinya kamu memang optimis banget dan cocok banget jadi pebisnis, saya sarankan untuk merintis bisnis online di sektor penjualan retail produk fisik karena kemungkinan sukses nya lebih tinggi melihat besarnya “kue” yang tersedia dan beragamnya ceruk pasar yang bisa kamu explore.

Gimana menurut kamu? Jalan yang kamu tempuh apa sudah sesuai data yang saya lampirkan kah?

Leave a Reply